BPJS (Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita)

Suatu hari salah satu karyawan saya menghadap saya. Dari caranya menghadap saya, sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikannya secara rahasia.

“Mas, boleh minta tolong gak?”
“Kenapa, Rin?” Jawab saya.
“Bisa buatkan saya slip gaji gak? Tapi nilainya agak dinaikin”
“Emangnya buat apa?”
“Saya mau kredit motor Mas” Jawabnya lugu.

Saya lalu menyuruhnya mengambil kertas. Dan sejenak kemudian dia kembali kepada saya dengan wajah bertanya tanya.

“Punya duit berapa?” Tanya saya.
“Dua juta Mas”
“Naksir motor apa?”
“V**io Matic Mas”
“Udah tahu itu motor harganya berapa?”
“Sekitar 17 juta Mas” katanya seraya menunjukkan tabel angsuran kepada saya.

“Oke, ini motor harganya 17 juta. DP 2 juta. Ya kan?” Tanya saya. “Mau ambil angsuran berapa tahun?”
“3 tahun Mas. Sesuai dengan gaji saya.”
“Berarti yang 800rb ya?”

“Sekarang hitung, 800.000 x 36 bulan berapa?”
“28.800.000 Mas”
“Tambah DP 2 juta…?”
“30.800.000 Mas”

“Itu total harga 🛵 motormu kalau dikredit kan? Padahal harga 🛵 motormu tadi 17 juta kan?” Tanya saya. “Kamu mau beli barang yang harganya 17 juta dengan harga 30 juta?”
“Enggak Mas”
“Trus saya tanya nih. Misal kamu bayar lancar. Trus 3 tahun ke depan motor 🛵 itu jadi milik kamu. Kira kira kalo kamu jual, itu motor paling tinggi bisa laku berapa?”
“Mungkin sekitar 7 – 8 Mas”

“Oke, kita anggap 7 juta ya. Padahal harga motormu 17 juta kan? Berarti kamu juga mesti perhitungkan kerugian akibat penyusutan nilai barang itu kan?” Kata saya. Karyawan saya tadi terdiam. Dia mulai berpikir keras.

“Dari selisih nilai cash dan kredit tadi, kamu sudah rugi 13 juta, sekarang ditambah lagi 10 juta dari penyusutan barang. Total kerugian sudah 23 juta. Nah, kamu mau bayar 30.800.000 untuk sebuah barang yang nilainya 7 juta saat barang itu sah menjadi milik kamu?”

“Enggak Mas…!”
“Masih mau saya buatkan slip gaji fiktif?”
“Enggak Mas… Permisi Mas…” Jawabnya sambil berlalu meninggalkan saya.

Sekitar 3 hari setelah gajian, saya melihat karyawan saya tadi datang dengan mengendarai motor. Dia tidak diantar lagi.

“Motor baru nih” Goda saya.
“Ah, Mas ini. Ini second Mas.” Jawabnya malu malu. Dia lalu bercerita bahwa setelah menghadap saya beberapa waktu lalu, dia berdiskusi dengan orang tuanya. Dan dia memutuskan untuk membeli motor tetangganya yang dijual dengan harga 3,5 juta. Semua dengan uangnya sendiri CASH.

Saya tersenyum saat melihat keceriaannya. Dan saya kian bangga padanya.

Man teman…
Banyak dari kita yang lebih mengedepankan gengsi dalam memenuhi tuntutan gaya hidupnya. Parahnya, gaya hidup itu dipenuhi dengan cara ngutang.

Sebenarnya kalau kita mau berfikir, sabar dan ikhtiar sedikit lebih keras saja, ada beberapa solusi yang bisa kita pilih. Jangan sampai karena kita “kepanasan” dengan teman atau tetangga kita yang sudah punya ini dan itu, kita jadi lupa akan kebutuhan kita yng sesungguhnya.

Ingat ya sdr * sahabat2 ku …

Kebutuhan dan
*** keinginan itu beda jauh sekali. Dan jangan pernah menjadikan utang sebagai satu satunya solusi pemenuhan kebutuhan hidup.

Keep smart for our money.


ref: Mirza Gunawan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s